ALIANSI KB04 KITA ADALAH SAUDARA.

ALIANSI KB04 KITA ADALAH SAUDARA.
HIDUP KB04!!!!!!

Senin, 24 Desember 2012

1. hal - hal yang berhubungan dengan alinea ,cakupan bahasan:

a) Pengertian Alinea
Alinea adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Alinea diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari kalimat dari sudut pandang komposisi, alinea sebenarnya sudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab karangan formal yang sederhana boleh saja hanya terdiri atas satu alinea. Jadi, tanpa kemampuan menyusun alinea tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.
Tujuan Alinea
Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dari tema
yang lain. Oleh sebab itu alinea hanya boleh mengan dung suatu tema, bila terdapat
dua tema, maka dipecahkan menjadi dua alinea.
Memisahkan dan menegaskan perkataan secara wajar dan formal, untuk memungkinkan kita berhenti lebih lama daripada perhatian pada akhir kalimat. Dengan perhentian yang lrbih lama ini, konsentrasi terhadap tema alinea lebih terarah.
Macam-Macam Alinea
Berdasarkan sifat dan tujuannya, alinea dapat dibedakan menjadi :
Alinea Pembuka
Alinea Penghubung
Alinea Penutup
Berdasarkan sifat isinya, alinea dapat dibedakan menjadi :
Alinea persuatif
Alinea argumentatif
Alinea naratif
Alinea deskriptif
Alinea ekspositoris
Berdasarkan fungsi, alinea dapat dibedakan menjadi :
Alinea Pembuka
Alinea Pengembang
Alinea Penutup
Syarat-Syarat Pembentukan Alinea
Adapun syarat - syarat dari alinea yaitu :
Kesatuan, maksudnya semua kalimat yang membina alinea itu secara bersama-sama menyatakan satu hal suatu hal tertentu.
Koherensi, (kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk alinea itu).
Perkembangan alinea, (perkembangan alinea adalah penyusunan/ perician daripada gagasan-gagasan yang membina alinea-alinea itu)
Efektif, dengan penggunaan kalimat yang efektif, maka ide akan disampaikan secara tepat.
b) Contoh Alinea
 1. Alinea deduktif
Alinea yang kalimat utamanya berada diawal.
Contoh :
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan Sumber daya alam. Contohnya di pulau Sumatra yang terdiri dari suku batak, suku minang , suku aceh, suku melayu dan lain-lain yang masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Bukan hanya dipulau Sumatra saja, bahkan di pulau Jawa, Kalimantan, dan juga pulau-pulau lainnya juga terdapat macam-macam suku dengan kebudayaannya.
2. Alinea induktif
Alinea yang kalimat utamanya berada diakhir
Contoh :
Ratusan mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya sebagai mahasiswa pecinta alam seluruh Indonesia mendatangi kantor kami. Mereka menduduki pintu masuk ke kantor sehingga kendaraan yang biasanya keluar masuk kantor kami praktis terhalang. Mereka menuduh kamilah ”biang kerok” pencemaran kali Ciliwung. Kami tidak tahu mengapa mereka yakin dengan tuduhan itu.Padahal, kita semua tahu bahwa banyak pabrik yang menyalurkan limbah buangannya ke kali Ciliwung.Bagaimana mereka yakin bahwa kamilah penyebab pencemaran kali Ciliwung itu ? Kami berani membuktikan bahwa limbah buangan pabrik-pabrik kami telah bebas dari kandungan zat yang membahayakan. Kami menduga pasti ada sesuatu di balik peristiwa itu.

3. Alinea Deduktif – Induktif
Aline yang kalimat utamanya berada diawal dan diakhir
Contoh :
Bawalah payung sebelum hujan. Karena akhir – akhir ini sering sekali terjadi perubahan cuaca. Kadang pada siang hari langit cerah dan hawa terasa panas namun saat sore hari langit mendung dan hawa terasa dingin. Biasanya kita sangat – sangat malas untuk membawa payung apalagi bagi laki – laki. Selain merepotkan dan malas, Laki – laki biasa lebih cenderung memilih hujan ketimbang membawa payung. Namun kita tidak memikirkan efek dari kita hujan – hujanan tersebut. Bisa saja kita sakit dan pada akhirnya itu akan merugikan diri kita sendiri. Jadi ada baiknya bila kita sedia payung sebelum hujan



http://niaas8.wordpress.com/2010/11/05/alinea-paragraf/, terakhir diakses 23 Desember  2012, jam 09.25 WIB 
http://gustiayumade.wordpress.com/2010/10/16/alinea-paragraf/, terakhir diakses 23 Desember  2012, jam 09.30 WIB

http://juprimalino.blogspot.com/2012/04/pengertian-definisi-paragraf-atau.html, terakhir diakses 23 Desember  2012, jam 009.34 WIB

Perencanaan penulisan karangan ilmiah,cakupan bahasan



CONTOH KARYA ILMIAH






KONFLIK SUPPORTER THE JAK MANIA DENGAN VIKING BOBOTOH

BAB I
 PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
            Supporter sepak bola masih sering menjadi tema sentral pembahasan dan diskusi khayalan, kehadirannya terkadang menyelinap di antara tema – tema penting dan panas lainnya. Terlebih apa bila ada peristiwa penting dalam pertandingan sepak bola, atau ada hal yang khusus terkait dengan ulah suporter sepak bola pendukung sebuah kesebelasan.
            Supporter berasal dari akar kata supporter, dari kata kerja (verb) dalam bahasa Inggris to support dengan akhiran (suffict) er. To support mempunyai arti mendukung, sedangkan untuk akhiran er menunjukan pelaku. Kalo ditarik maknanya maka supporter berarti sebagai orang yang memberikan dukungan atau support tertentu pada ikhwal tertentu pula. Supporter bersifat aktif, member dukungan dengan dilandasi oleh perasaan cinta dan fanatisme tertentu.
            Istilah supporter cukup dekat kekerabatanya dengan kata penonton, namun istilah penonton maknanya akan lebih luas dari pada supporter, artinya setiap supporter mestinya seorang penonton, sebaliknya tidak semua penonton itu adalah supporter. Masyarakat umum kadang memakai kedua istilah ini bertukar-tukar, karena agak susah membedakannya untuk menyebut obyek yang sama dengan pilihan dua kata: supporter dan penonton.
            Sepak bola adalah salah satu jenis olahraga yang sangat membutuhkan keberadaan supporter ini, ada multi fungsi keberadaannya. Untuk menyebut supporter sepak bola dibelahan dunia ini seperti tifosi dari Italia, torsedor dari Amerika Latin, hooligans untuk suporter tim Nasional Inggris, dll. Ditingkatan klub-klub liga Indonesia juga dikenal sebutan untuk supporter beberapa klub tersebut, seperti The Jak Mania (Persija Jakarta), Viking (Persib Bandung), Aremania (Arema Malang), Bonek (Persebaya Surabaya), LA Mania (Persela Lamongan), Pusamania (Persisam Putra Samarinda), Ultras Gresik (Gersik United), Ultras Garuda (Tim Nasional Indonesia), dll.
 (The Jakmania)
(Viking)
(Aremania)
 (Ultras Garuda 1945)


 (Ultras Gresik)
 (La Mania)
 (Pusamania)
(Bonek)
            Kehadiran supporter bagi tim sepak bola tentu sangat diharapkan karena olahraga ini sudah bukan sekedar olahraga dengan tujuan sempit menjaga kesehatan, dll, namun sudah berkembang menjadi sebuah bisnis dan industri. Kehadiran supporter akan membawa semangat tersendiri bagi para pemain, karena segala teknik, ketrampilan, kecepatan, kemahiran, dan seni bermain bola akan bisa dinikmati oleh orang lain. Cinta, sayang, perhatian, dukungan tentu dinantikan oleh sang pemain dari para supporternya.
            Ada pun sebutan pendukung sepak bola yang sama seperti supporter yaitu ultras. Ultras mempelopori suporter yang amat terorganisir (highly organized) dengan gaya dukung 'teatrikal' yang kemudian menjalar ke negara-negara lain, seperti club – club papan atas di Indonesia yang memiliki ultras – ultras seperti Ultras Curva Nord Persija (Persija Jakarta), Ultras Curva Sud Arema (Arema Malang), Ultras Persib (Persib Bandung), Brigata Curva Sud (PSS Sleman), dan Tim Nasional Indonesia memiliki ultras yang sama yaitu Ultras Garuda 1945, dll.
 (Ultras Curva Nord Persija)


(Ultras Persib)
(BCS Sleman)
(Ultras Garuda 1945)
           Model tersebut masyhur karena menampilkan pertunjukan-pertunjukan spektakuler meliputi kostum yang terkoordinir, kibaran aneka bendera, spanduk & panji raksasa, pertunjukan bom asap warna-warni, nyala kembang api (flares) dan bahkan sinar laser serta koor lagu dan nyanyian hasil koreografi, dipimpin oleh seorang CapoTifoso yang menggunakan megaphones untuk memandu selama jalannya pertandingan.



Dalam tradisi calcio, ultras adalah "baron" dalam stadion. Mereka menempati dan menguasai salah satu sisi tribun stadion, biasanya di belakang gawang, yang kemudian lazim dikenal dengan sebutan curva. Ultras tersebut menempati salah satu curva itu, baik nord (utara) atau sud (selatan), secara konsisten hingga bertahun-tahun kemudian. Utras dari klub-klub yang berbeda ditempatkan pada curva yang saling berseberangan. Selain itu, berlaku aturan main yang unik yaitu polisi tidak diperkenankan berada di kedua sisi curva itu.

Kelompok Ultras yang pertama lahir adalah (Alm.) Fossa dei Leoni, salah satu kelompok suporter klub AC Milan, pada tahun 1968. Setahun kemudian pendukung klub sekota sekaligus rival, Internazionale Milan, membuat tandingan yaitu Inter Club Fossati yang kemudian berubah nama menjadi Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurra). Fenomena ultras sempat surut dan muncul lagi untuk menginspirasi dunia dengan aksi-aksi megahnya pada pertengahan tahun 1980-an.

Ultras itu sekelompok supporter tetapi dia sangat fanatik terhadap tim yang di dukungnya, dan selalu mengibarkan panji - panji kebesaran tim yang mereka dukung. Mereka bukan supporter biasa yang hanya nyanyi di stadion, tetapi mereka atraktif, selalu menyanyikan lagu - lagu untuk  tim kesayangannya, membawa bendera - bendera besar, red flare, nampilin banner yang besar di stadion, dan menampikan Coreography.

Ultras sendiri punya kode etik di antara ultras, yaitu bila mereka fight itu sifatnya open fight, untuk merebut Banner atau bendera kebesaran yang jd simbol suatu grup ultras, dalam fight tersebut mereka di larang melibatkan polisi, karna Polisi dimata ultras haram. A.C.A.B (All Cops Are Bastard)

B.    IDENTIFIKASI MASALAH
            Dalam perkembangannya konflik supporter antara The Jak Mania dengan Viking sering menimbulkan sisi negative dan positif, misalnya :
1.      Menimbulkan kekacauan di dalam stadion atau pun diluar stadion,
2.      Merusak fasilitas umum bila terjadi bentrokan,
3.      Membangkitkan atmosfir distadion saat bertanding,
4.      Tambah dikenal supporter fanatik di Indonesia dimata sepak bola dunia.
C.    RUMUSAN MASALAH
            Adanya konflik supporter ini menimbulkan berbagai masalah dimasyarakat umum, salah satunya sering merusak fasilitas umum bila terjadi bentrokan antar supporter, dan segi positifnya membangkitkan rasa cinta yang royalitas untuk club kesayangannya.
D.    TUJUAN PENULISAN
            Karya Ilmiah dibuat dengan bertujuan agar supporter – supporter di Indonesia bisa lebih royalitas dalam memberi dukungan kepada club – club kesayanganya, dan menambah jiwa fanatik supporter, karena supporter adalah pemain ke dua belas di stadion yang memeriahkan suasana atmosfir distadion.

 
BAB II
PEMBAHASAN
A.        THE JAK MANIA
            The Jakmania adalah kelompok pendukung / supporter kesebelasan sepak bola Persija Jakarta yang berdiri sejak Ligina IV, tepatnya 19 Desember 1997. Markas dan sekretariat The Jakmania berada di Stadion Lebak Bulus. Setiap Selasa dan Jumat merupakan rutinitas The Jakmania baik itu pengurus maupun anggota untuk melakukan kegiatan berkumpul bersama membahas perkembangan The Jakmania serta laporan-laporan dari setiap bidang kepengurusan.
Ide terbentuknya The Jakmania muncul dari Diza Rasyid Ali, manager Persija saat itu. Ide ini mendapat dukungan penuh dari Gubenur DKI Jakarta Sutiyoso. Sebagai pembina Persija, memang Sutiyoso sangat menyukai sepak bola. Ia ingin sekali membangkitkan kembali persepak bolaan Jakarta yang telah lama hilang baik itu tim maupun pendukung.
Pada awalnya, anggota The Jakmania hanya sekitar 100 orang, dengan pengurus sebanyak 40 orang. Ketika dibentuk, dipilihlah figur yang dikenal di mata masyarakat, yaitu Gugun Gondrong yang merupakan sosok paling ideal di saat itu. Meski dari kalangan selebritis, Gugun tidak ingin diberlakukan berlebihan. Ia ingin merasa sama dengan yang lain.
Pengurus The Jakmania waktu itu akhirnya membuat lambang sebuah tangan dengan jari berbentuk huruf J. Ide ini berasal dari Edi Supatno, yang waktu itu menjadi Humas Persija. Hingga sekarang, lambang itu masih dipertahankan dan selalu diperagakan sebagai simbol jati diri Jakmania.
Seiring dengan habisnya masa pengurusan, Gugun digantikan Ir. T Ferry Indrasjarief yang lebih akrab disapa Bung Ferry. Masa tugas Bung Ferry adalah periode 1999-2001 dan kembali dipercaya untuk memimpin The Jakmania periode 2001-2003, 2003-2005.
Bung Ferry memimpin The Jakmania hingga 3 periode. Di bawah kepemimpinan Bung Ferry yang juga pernah menjadi anggota suporter Commandos Pelita Jaya, The Jakmania terus menggeliat. Organisasi The Jakmania ditata dengan matang. Maklum, Bung Ferry memang dibesarkan oleh kegiatan organisasi. Awalnya, sangat sulit mengajak warga Jakarta untuk mau bergabung. Beruntung, pengurus menemukan momentum jitu. Saat tim nasional Indonesia berlaga jelang piala asia, mereka menyebarkan formulir di luar stadion. Dengan makin banyaknya anggota yang mendaftar sekitar 7.200 anggota, dibentuklah Kordinator Wilayah. Dan sampai pendaftaran terakhir saat ini terdapat lebih dari 70.000 anggota dari 50 Korwil. Setelah diadakan Pemilihan Umum Raya 2005, untuk memilih Ketua Umum yang baru, akhirnya terpilihlah Ketua Umum Baru periode 2005-2007 yaitu Hanandio Ismayani atau yang bisa dipanggil dengan Bung Danang.
Setelah Bung Danang digantikan dengan Larico Ranggamone atau yang sering dipanggil Ayah Rico periode 2010-2012, sampai pendaftaran anggota terakhir terdapat 95.000 anggota yang terdaftar di 50 korwil, belum lagi anggota yang di luar Jakarta yang tidak didaftar mungkin anggota The Jakmania sudah  ratusan ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Di dalam dunia supporter tak hanya terdiri dari kaum hadam saja, tapi sudah berkembang ke kaum hawa, di Persija ada The Jak Angel untuk sebutan supporter perempuan di Persija.
 (Jak Angel)


B.        VIKING PERSIB BANDUNG
Viking Persib salah satu kelompok supporter pendukung tim Persib Bandung yang terorganisir di wilayah kota Bandung khususnya, dan Jawa Barat pada umumnya menjadi kelompok suporter tertua dan pertama (Pioneer) di Indonesia, yang mengawali sejarah terbentuknya kelompok-kelompok suporter di seluruh wilayah Indonesia.

Keberadaan Kelompok Suporter yang mengambil nama dari suku/etnis di wilayah Skandinavia (Swedia, Norwegia) yang terkenal sebagai “bangsa/suku penakluk” ini bisa dikatakan sangat fenomenal, karena baru pertama kali di Indonesia muncul sebuah organisasi supporter yang terorganisir dalam mendukung sebuah klub perserikatan pada masa itu, yang mempunyai karakter tersendiri, mempunyai visi dan misi serta tujuan yang jelas dalam mendukung tim Persib secara sportif dan positif.
 
Supporter yang berdiri sejak tahun 1993, pada saat tahun 2005 tercatat kurang lebih 21.400 anggota The Vikers (Sebutan anggota Viking) sekarang sampai tahun 2012 setelah dilakukan pemutihan dan pendataan ulang anggota tercatat kurang lebih 80.000 anggota yang terdiri dari berbagai kalangan dan tingkatan usia. (sumber: Data Distrik Viking Pusat) Anggotanya pun bukan hanya muncul dari wilayah Bandung saja, tetapi sudah menyebar keseluruh wilayah Jawa Barat, Jabodetabek, serta daerah lainnya di Indonesia. Dan di Persib tak mau kalah soal supporter wanita, di Persib Bandung pun ada supporter setia wanita yang disebut Lady Vikers.


(Lady Vikers)



C.        KONFLIK DALAM SEPAK BOLA INDONESIA
Suporter dan sepakbola adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, dimana ada sepakbola disitu juga ada suporter, tidak memandang tua, muda, maupun anak-anak. Kecintaan mereka terhadap tim sepak bola yang dibelanya telah mengubah pikiran normal manusia. Berbagai atribut seperti kaos, bendera, maupun spanduk dengan berbagai warna kebesarannya oren,merah, hijau, maupun biru telah menjadi simbol dan identitas mereka.

            Kerusuhan suporter bukan hal yang baru dalam dunia persepakbolaan. Gengsi dan harga diri mereka dipertaruhkan ketika tim kesayangannya bertanding. Suporter sebagai penyemangat disaat tim kesayangan mereka membutuhkan suntikan psikologis dengan nyanyian, tarian dan teriakan.
            Fanatisme yang berlebihan dari suporter dalam mendukung tim kesayangannya kadangkala berubah menjadi kerusuhan atau tindak anarkisme dengan merusak berbagai fasilitas umum. Tindakan kerusuhan suporter ini semakin anarkis ketika terjadi gesekan antara dua kelompok suporter, meskipun misi perdamaian sudah dilakukan banyak kelompok suporter di Indonesia. Inilah yang merusak kaidah Pancasila khususnya sila ke-3 yaitu “Persatuan Indonesia”.

D.        PENGARUH KONFLIK SUPPORTER THE JAK VS VIKING
Atas konflik yang berkepanjangan antara dua supporter basis terbesar di sepak bola Indonesia ini membuat ketidak nyamanan masyarakat umum, untuk warga Jakarta yang ada di Bandung atau pun warga Bandung yang ada di Jakarta, sebagai contoh saat tim Persija Jakarta menang atas Persib Bandung di Stadion Jalak Harupat Bandung,para supporter Persib yaitu Viking langsung mencari kendaraan bermotor yang berplat nomor B lalu mereka melampiasi kekecewaan mereka dengan merusaknya,hal yang sama terjadi di Jakarta apa bila sedang ada pertandingan Persija kontra Persib di stadion Gelora Bungkarno, pasti kendaraan yang berplat D dilarang masuk dikawasan GBK , dan apa lagi bila dua tim bertemu dalam satu stadion tensi panas pun bermunculan dari bangku penonton atau pun didalam lapangan, makanya sering jatuh korban supporter entah dari The Jakmania atau Viking,didalam stadion ataupun diluar stadion. Disini pemerintah dan PSSI sekalu federasi sepak bola tertinggi di Indonesia harus berperan aktif dalam menyatukan supporter – supporter yang mangalami konflik seperti ini, karena dapat merusak persatuan dan kesatuan untuk semua warga Negara Indonesia.








BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
            Pengaruh dari komflik supporter ini memang sangat bahaya untuk masa depan generasi generasi mkedepannya, memang perseturuan antar supporter memang tidak bisa hilling meski kadang sudah ada kata sepakat antar dua kubu yang bertikai. Memang Fanatisme takkan pernah Mati meski banyak yang Mati karena Fanatisme.

B.    SARAN – SARAN
Dari hasil pembahasan diatas, dapat dilakukan beberapa tindakan untuk mencegah terjadinya pergeseran kebudayaan yaitu :
1.      Peran dari manajemen klub untuk lebih mendewasakan supporternya biar lebih sopan dan menghargai supporter lawan.
2.      Peran dari pihak berwajib juga harus lebih tegas dalam mengkawal suatu pertandingan di dalam stadion maupun diluar stadion.
3.      Dari pihak PSSI selaku federasi tertinggi di sepak bola Indonesia harus lebih tegas dalam menjatuhkan sangsi kepada para supporter yang nakal.
4.      Dan dari para supporternya sendiri harus lebih dewasa dan menghargai supporter lawan, entah di dalam stadion atau pun  di luar stadion.

www.jakmania.org/ terakhir di akses 23 Desember 2012, jam 05.45

http://persijajakarta.net/ terakhir di akses 23 Desember 2012, jam 08.45
www.persib.co.id/  terakhir di akses 23 Desember 2012, jam 10.45
www.persijanews.com/ terakhir di akses 23 Desember 2012, jam 13.45
www.vikingpersib.com terakhir di akses 23 Desember 2012, jam 16.45
www.simamaung.com/ terakhir di akses 23 Desember 2012, jam 20.45

Kamis, 01 November 2012

Tugas Softskill Bahasa.Indonesia yg Ke 2



Mencoba Jadi Pemimpin
Oktober 30, 2012
Dalam keseharianku mungkin banyak tawa dan canda, namun dibalik itu semua ada sebuah luka yang entah akan terobati atau akan membusuk. Tidakkan yang dilakukan karena nafsu akhirnya berdampak pada sebuah kelompok yang sudah tidak memiliki pemimpin. Dan terpaksa seseorang mencoba memainkan peran sebagai pemimpin, walaupun tidak secara utuh. Ingat “terpaksa mencoba memainkan peran sebagai pemimpin”.
Bermula dari pertemuan yang tidak direncanakan. Mungkin Tuhan memainkan peran yang sangat indah pada momentum ini. Perkenalan ini bermula dari seorang kawan yang mampir ke rumah untuk bersilaturahmi dengan membawa temannya. Dan tanpa sengaja (mungkin) dia menghubungi seseorang yang mencoba jadi pemimpin. Yah dan dia merasa bahwa telah menemukan pemimpin selanjutnya.

Kejadiaan yang terekam sangat cepat. Entah apakah ada file yang tersimpan dengan rapi atau mungkin sudah terhapus. Hanya perlu beberapa bulan untuk memastikan dia sebagai calon pemimpin. Bahkan seseorang yang mencoba jadi pemimpin memutuskan secara otoriter dalam kelompoknya. Sehingga anggota kelompok terpaksa menerima keadaan ini. Memang sakit. Dan mungkin sangat sakit.
Pemimpin kelompok sebelumnya sangat sederhana dan selalu menjalani program kerja dengan diiringi senyum hangat yang membuat anggota kelompok harus menghela nafas panjang dalam lelah. Sabarnya mungkin terlihat tanpa batas, namun dalam beberapa coretan buku harian-nya dia mengadu pada Tuhan bukan manusia. Dan buku harian itu sengaja ditinggalkan bersama buku-buku di ruang kerjanya.
Pemberontakkan terjadi. Bahkan sempat menggoyahkan kekompakkan kelompok. Ditambah beberapa rekanan kelompok menolak keras adanya pemimpin yang dipilih secara otoriter oleh orang yang mencoba jadi pemimpin. Tapi dari banyaknya tudingan akan kepentingan pribadi ada beberapa hal yang menjadi nilai positif dari orang yang dipilih oleh orang yang mencoba jadi pemimpin,
  • Orang ini memang dilahirkan jadi pemimpin,
  • Kapasitas kerjanya lebih aktif,
  • Wawasannya memadai,
  • Retorika yang baik (wajar saja dia memiliki pengetahuan tentang hukum),
  • Sokongan dana dari beberapa pihak,
  • dan dia memiliki niat.
Mungkin itu beberapa alasan yang akhirnya membuat dia tetap terpilih menjadi pemimpin. Anggota kelompok terpaksa menerimanya. Karena calon pemimpin ini telah melakukan kongkalikong dengan orang yang mencoba jadi pemimpin. Dan ini akan menjadi kehancuran bagi kelompok tersebut dikemudian hari (tindakan selalu memiliki akibat).
Kepemimpinan ini berjalan dengan sangat mulus pada awalnya. Lambat laun waktu menunjukkan janjinya, akan membuka pintu kebenaran pada kesempatan yang tepat. Dan janji benar adanya. Kelompok ini dihujani dengan beberapa permasalahan internal antara pemimpin yang baru dan orang yang mencoba jadi pemimpin. Mungkin karena merasa dalam diri mereka memiliki jiwa kepemimpinan akhirnya rasa egois mereka melebur menjadi satu dan berakhir dengan pertikaian tanpa jawaban.
Mereka sebagai orang-orang yang dianggap memiliki kapasitas untuk menyelesaikan masalah ini bukannya melakukan mediasi atau berbincang-bincang, melainkan hanya mengurung diri dalam kamar mereka masing-masing. “Oh waktu kau memang memberikan apa yang aku tunggu-tunggu,” gumam hati seorang anggota yang sempat mempertanyakan keputusan orang yang mencoba jadi pemimpin.
Pagi hari tak selalu indah untuk dinanti. Seperti Worker Class yang menatap hari senin. Benar saja, sebuah surat pengunduran diri mampir di kotak surat milik kelompok. “Mampus, bubar aja deh,” saut anggota yang mengabarkan keadaan ini kepada anggota lain yang sedang melakukan tugas di luar daerah.
Tanpa detail yang jelas akhirnya masa kepemimpinan pemimpin yang baru harus berakhir dalam musyawarah besar. Dan dalam musyawarah itu memutuskan kembali bahwa kelompok ini sementara tanpa pemimpin. Sehingga dalam setiap langkahnya harus melakukan koordinasi antara anggota. Namun orang yang mencoba jadi pemimpin kembali mengambil posisinya kembali sebagai bayangan-bayang pemimpin dalam kelompok.
Mungkin karena bumi ini berputar maka kelompok kami masih bertahan dan utuh walaupun tanpa pemimpin. Royalitas yang sudah terbangun membuat kami tetap memaksakan diri agar nyaman dalam kelompok, walaupun ada beberapa gumam dalam anggota yang melaknat tindakkan orang yang mencoba jadi pemimpin. “Perjalanan takdir layaknya roda yang berputar,” seorang rekan kerja mengingatkan untuk menguatkan anggota kelompok. Tapi apa iya seperti itu adanya?
Kenyamanan kelompok ini ada pada anggotanya. Walaupun ada pendukung dari luar yang bisa menjadi penyokong kenyamanan kelompok, atau malah menghancurkan. Anggota-anggota semakin acuh dengan keputusan dan tindakan yang diambil orang yang mencoba jadi pemimpin, dan memilih saling memperhatikan satu sama lain.
“Surga itu ada ketika kau mampu membuat akalmu menjadi pemimpin bagi hati yang murni dan nafsu yang kelam”


DIKSI


Pengertian diksi adalah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian kat-kata. Dalam hal ini, makna kata yang tepatlah yang diperlukan
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata itu harus pula sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata-kata itu.
Hal yang utama mengenai diksi adalah
1.Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
2.Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari suatu gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kekompok masyarakat pendengar.
3.Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau pembendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah baha


1. Pengertian Diksi

Dalam KBBI (2002 : 264) diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan. Dari pernyataan itu tampak bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi kegiatan berbahasanya, termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan.

Setiap kata memiliki makna tertentu untuk membuat gagasan yang ada dalam benak seseorang. Bahkan makna kata bisa saja “diubah” saat digunakan dalam kalimat yang berbeda. Hal ini mengisyaratkan bahwa makna kata yang sebenarnya akan diketahui saat digunakan dalam kalimat. Lebih dai itu, bisa saja menimbulkan dampak atau reaksi yang berbeda jika digunakan dalam kalimat yang berbeda.

Berdasarkan hal itu dapat dikatakan bahwa diksi memegang tema penting sebagai alat untuk mengungkapkan gagasan dengan mengharapkan efek agar sesuai.

2. Ketepatan dan Kesesuaian Penggunaan Diksi

Pemakaian kata mencakup dua masalah pokok, yakni pertama, masalah ketepatan memiliki kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan atau ide. Kedua, masalah kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata tersebut. Menurut keraf (2002 : 87) “Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembaca”. Masalah pilihan akan menyangkut makna kata dan kosakatanya akan memberi keleluasaan kepada penulis, memilih kata-kata yang dianggap paling tepat mewakili pikirannya. Ketepan makna kata bergantung pada kemampuan penulis mengetahui hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referennya.

Seandainya kita dapat memilih kata dengan tepat, maka tulisan atau pembicaraan kita akan mudah menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang dirasakan atau dipikirkan oleh penulis atau pembicara. Mengetahui tepat tidaknya kata-kata yang kita gunakan, bisa dilihat dari reaksi orang yang menerima pesan kita, baik yang disampaikan secara lisan maupun tulisan. Reaksinya bermacam-macam, baik berupa reaksi verbal, maupun reaksi nonverbal seperti mengeluarkan tindakan atau perilaku yang sesuai dengan yang kita ucapkan. Agar dapat memilih kata-kata yang tepat, maka ada beberapa syarat yang harus diperhatikan berikut ini.

a. Kita harus bisa membedakan secara cermat kata-kata denitatif dan konotatif; bersinonim dan hampir bersinonim; kata-kata yang mirip dalam ejaannya, seperti :bawa-bawah, koorperasi-korporasi, interfensi-interferensi, dan

b. Hindari kata-kata ciptaan sendiri atau mengutip kata-kata orang terkenal yang belum diterima di masyarakat.

c. Waspadalah dalam menggunaan kata-kata yang berakhiran asing atau bersufiks bahasa asing, seperti :Kultur-kultural, biologi-biologis, idiom-idiomatik, strategi-strategis, dan lain-lain

d. Kata-kata yang menggunakan kata depan harus digunbakan secara idiomatik, seperti kata ingat harus ingat akan bukan ingat terhadap, membahayakan sesuatu bukan membahayakan bagi, takut akan bukan takut sesuatu.

e. Kita harus membedakan kata khusus dan kata umum.

f. Kita harus memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.

g. Kita harus memperhatikan kelangsungan pilihan kata.

3. Kata dan Gagasan

Dalam berkomunikasi , setiap orang menggunakan kata (bahasa). Para linguis sampai sekarang masih memperbincangkannya karena belum ada batasan yang mutlak tentang itu. Istilah kata bisa digunakan oleh para tatabahasawan tradisional. Menurut mereka, kataadalah satuan bahasan yang memiliki satu pengertian atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti. Para tatabahasawan struktural, penganut aliran Bloomfield menyebutnya morfem. Batasan kata yang dibuat Bloomfield sendiri, yakni kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form)(chaer, 1994 : 162-163)

Yang paling penting dari rangkaian kata-kata itu adalah pengertian yang tersirat di balik kata-kata yang digunakan. Setiap orang yang terlibat dalam berkomunikasi harus saling memahami atau saling mengerti, baik pembicara maupun pendengar, pengertian yang tersirat dalam sebuah kata itu mengandung makna bahwa tiap katamengungkapkan sebuah gagasan atau sebuah ide. Dengan kata lain, kata adalah media yang digunakan untuk menyampaikan gagasan atau ide kepada orang lain. Menurut Keraf (2002:21)”Kata-kata ibarat”pakaian” yang dipakai oleh pikiran kita. Tiap kata memiliki “jiwa”. Setiap anggota masyarakat harus mengetahui “jiwa”, agar ia dapat menggerakkan orang lain dengan “jiwa” dari kata-kata yang dapatdigunakannya:.

Kata dengan gagasan mempunyai hubungan ketergantungan. Orang yang mempunyai banyak gagasan pasti mempunyai banyak kata yang dikuasai seseorang, semakin banyak ide atau gagasan yang bisa diungkapkannya. Orang yang banyak menguasasi kosakata akan merasa mudah dan lancar berkomunikasi dengan orang, lain. Seringmkita sering tidak memahami pembicaraan orang lain, karena kita tidak atau kurang menguasai kata-kata atau gagasan seperti yang dikuasai oleh pembicara.

4. Pilihan Kata

Pilihan akat atau diksi bukan hanya memilih kata-katayang cocok dan tepat untuk digunakan dalam mengungkapkan gagasan atau ide, tetapi juga menyangkut persoalan fraseologi (cara memakai kata atau frase di dalam konstruksi yang lebih luas, baik dalam bentuk tulisan maupun ujaran), ungkapan, dan gaya bahasa. Fraseologi mencakup persoalan kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. Pemilihan gaya bahasa yang akan digunakan pun merupakan kegiatan memilih kata menyangkut gaya-gaya ungkapan secara individu.

Orang yang banyak menguasai kosakata akan lebih mudah memilih kata-kata yang tepat untuk digunakan dalam menyampaikan gagasannya. Orang yang kurang banyak menguasai kosakata terkadang tidak bisa menempatkan kata terutama yang bersinonim, seperti kata meneliti sama artinya dengan kata menyelidiki, mengamati, dan menyidik. Kata0kata turunannya penelitian, penyelidikan, pengamatan, dan penyidikan. Orang yang menguasai banyak kosakata tidak akan menerima bahwa kata-kata tersebut mengandung arti yang sama, karena bisa menempatkan kata-kata itu dengan cermat sesuai dengan konteksnya. Sebaliknya orang yang tidak menguasai kosakata akan mengalami kesulitan karena tidak mengetahui ada kata yang lebih tepat, dan tidak mengetahui ada perbedaan dari kata-kata yang bersinonim itu. Dengan demikian, menurut Keraf (2002: 14) diksi :

a. Mencakup pengertian kata-kata yang fipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, cara menggabungkan kata-kata.

Yang tepat, dan gaya yang paling baik digunakan dalam situasi tertentu;

b. Diksi adalah kemampuan secara tepat membedakan nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar atau pembaca; dan

c. Diksi yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan kosakata yang banyak.

5. Makna Kata dan Jenisnya

Kata yang merupakan satuan bebas terkecil mempunyai dua aspek, yakni aspek bentuk atau ekspresi dan aspek isi atau makna. Bentuk bahasa adalah sesuatu yang dapat dicerna oleh pancaindra, baik didengan maupun dilihat. Isi atau makna adalah segi yang menimbulkan reaksi atau respon dalam pikiran pendengar atau pembaca karena rangsangan atau stimulus aspek bentuk tadi. Kalau seseorng berkata, “pergi!” kepada kita, maka akan timbul reaksi dalam pikiran kita diam sekarang”. Dengan demikian, kata pergi merupakan bentuk atau ekspresi dan isinya atau maknanya merupakan reaksi seseorang atas perintah tadi.

Wujud reaksi itu bermacam-macam yakni berupa tindakan atau perilaku, berupa pengertian, serta berupa pengertian dan tindakan. Hal ini bergantung pada apa yang didengarnya, dengan kata lain respons akan muncul berdasarkan stimulusnya. Dalam berkomunikasi tidak hanya berhadapan dengan kata, tetapi juga berhadapan dengan serangkaian kata yang mengusung amanat. Dengan demikian, ada beberapa unsur yang terkandung dalam ujaran itu yaitu : pengertian, perasaan, nada, dan tujuan. Keempat unsur ini merupakan usaha untuk memahami makna. Untuk lebih kelasnya mari kita bahan satu persatu.

a. Pengertian merupakan landasan dasar untuk menyampaikan sesuatu kepada pendengar atau pembaca dengan mengharapkan suatu perilaku;

b. Perasaan merupakan ekspresi pembicara terhadap pembicaraanya, hal ini berhubungan dengan nilai rasa terhadap hal yang dikatakan pembicara;

c. Nada mencakup sikap pembicara atau penulis kepada pendengar pembacaanya; dan

d. Tujuan yaitu sesuatu yang ingin dicapai oleh pembicara atau penulis.

Makna kata merupakan hubungan antara bentuk dengan sesuatu yang diwakilinya atau hubungan lambang bunyi dengan sesuatu yang di acunya. Kata kuda merupakan bentuk atau ekspresi “sesuatu yang diacu oleh kata kuda” yakni “seeekor binatang yang tinggi-besar, larinya kencang dan biasa ditunggangi”.kedua istilah yang disbut referen. Hubungan antara bentuk dan referen akan menimbulkan makna atau referensi.

Makna kata pada umumnya terbagi atas dua macam yakni makna denotatif dan makna konotatif. Kata-kata yang bermakna denotatif biasa digunakan dalam bahasa ilmiah yang bersifat tugas atau tidak menimbulkan interpretasi tambahan. Makn denotatif disebut juga dengan istilah; makna denatasional, makna kognitif, makna konseptual, makna konseptual, makna ideasional, makna referensial, atau makna proposional (Keraf, 2002:208). Disebut makna denotasional, konseptual, referensial dan ideasional, karena maknamitu mengacu pada referen, konsep atau ide tertentu dari suatu referen. Disebut makna kognitif karena makna itu berhubungan dengan kesadarn, pengetahuan dan menyangkut rasio manusia.

Karena adanya bermacam-macam makna, maka penulis harus hati-hati dalam memilih kata yang digunakan. Sebenarnya memilih kata-kata bermakna denotatif lebih mudah daripada memilih kata-kata bermakna konotatif. Seandainya ada kesalahan dalam penulisan denotasi, mungkin karena adanya kekeliruan disebabkan oleh kata-kata yang mirip karena masalah ejaan. Kata-kata yng mirip itu seperti : gajig-gaji, darah-dara, interferensi-interfensi, dan bawah-bawa. Untuk lebih jelasnya, makna denotatif dapat dibedakan menjadi dua macam hubungan antara sebuah kata dengan barang individual yang diwakilinya. Kedua, hubungan sebuah kata dengan ciri-ciri atau perwatakan tertentu dari barang yang diwakilinya.

Makna konotatif atau sering juga disebut makna kiasan, makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif. Makna konotatif adalah suatu jenis makna dimana stimulus dan respons mengandung nilai-nilai emosional. Kata-kata yang bermakna konotatif atau kiasan biasanya dipakai pada pembicaraan atau karangan nonilmiah, seperti: berbalas pantun, peribahasa, lawakan, drama, prosa, puisi, dan lain-lain. Karangan nonilmian sangat mementingkan nilai-nilai estetika. Nilai estetika dibangun oleh bahasa figuratif dengan menggunakan kata-kata konotatif gar penyampaian pesan atau amanat itu terasa indah. Pada karangan ini kurang memperhatikan keakuratan informasi dan kelogisan makna. Dalam menyampaikan pesan ada dua macam cara. Pertama, penyampaian pesan secara langsung. Penyampaian pesan secara langsung hampir sama dengan penyampaian pesan (informasi) dalam karangan tidak langsung harus menggunakan bahasa figuratif dengan kata-kata konotatif. Kita tidak akan bisa langsung memahami pesan atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang kalau tidak mempunyai kemampuan mengapresiasinya.

Berikut kata-kata denotasi dan konotasi:

- Dia cantik seperti ibunya (denotatif)

- Dia cantik bagaikan bunga (konotatif)

- Beliau telah wafat tiga tahun yang lalu (denotatif)

- Beliau tekah mangkat tiga tahun yang lalu (konotatif)

- Kolam itu luasnya seratus meter persegi (denotatif)

- Kolam itu luas sekali (konotstif)

- Sebanyak seratus ribu orang yang menonton pertandingan sepakbola (denotatif)

- Membeludak penonton yang ingin menyaksikan pertandingan sepak bola (konottif

6. Kata Umum dan Kata Khusus

Kata umum adalah kata-kata yang pemakaian dan maknanya bersifat umum dan mencakup bidang yang luas, sedangkan kata yang khusus adalah kata-kata yang pemakaian dan maknanya terbatas pada suatu bidang tertentu.

Contoh : Kata Umum Kata Khusus

Miskin gelandangan, yatim piatu

Melihat menjenguk, menengok, melayat

Menatap, menoleh, mengamati

Besar raya, akbar, agung

Contoh :

a. Saya ngin menjadi sarjana pendidikan, oleh karena itu sekarang kuliah di FKIP Uninus

Saya ingin menjadi seorang hakim oleh karena itu sekarang kuliah Fakultas Hukum

b. Orang tua kami anggota Korpri. (umum)

Ibu saya seorang guru SD (khusus)

7. Perubahan Makna Kata

Bahasa bersifat dinamis sehingga dapat menimbulkan kesulitan bagi pemakai yang kurang mengikuti perubahannya. Ketepatan suatu kata untuk mewakili atau melambangkan suatu benda, peristiwa, sifat, dan keterangan, bergantung pada maknanya, yakni hubungan antara lambang bunyi (bentuk/kata) dengan referennya.

Perubahan makna kata bukan hanya ditentukan oleh perubahan jaman (waktu), melain juga disebabkan oleh tempat bahasa itu tumbuh dan berkembang. Makna bahasa mula-mula dikenal oleh masyarakatnya, tetapi pada suatu waktu akan bergeser maknanya pada suatu wilayah yang lain masih mempertahankan makna yang aslinya. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menggunakan atau memilih kata apalagi dalam hal-hal yang bersifat nasional (masalah tempat), terkenal, dan sementara belangsung (masalh waktu)”. Para mahasiswa yang membuat katya ilmiah, yang tulisannya bisa dibaca dalam taraf nasional harus menggunakan kata yang bersifat nasional, terkenal dan masih dipakai masyarakat.

Sebelum Perang dua Ke II kita mengenal kata daulat, dalam KBBI (2001: 240) mengandung arti: “1. berkat kebahagiaan (yang adal pada raja); bahgia; 2. kekuasaan; pemerintah. Kata ini digunakan dalam kalimat ,”Penyerahan kedaulatan Republik Indonesia; Negara Republik Indonesia yang merdeka berdaulat. Tetapi pada waktu revolusi fisik kata daulat bermakna lain yakni, merebut hk dengan tidak sah, memecat dengan paksa. Misalnya: tanah-tanah Belanda banyak yang didaulatoleh rakyat; gubernur itu didaulat tidak dipakai lagi, sehingga kata itu hampir mati meskipun dalam KBBI masih tercantum tetapi sudah jarang pemakainya.

8. Diksi dalam Kalimat

Diksi dalam kalimat adalah pilihan kata yang tepat untuk ditempatkan dalam kalimat sesuai makna, kesesuaian, kesopanan, dan bisa mewakili maksud atau gagasan. Makna kata itu secara leksikal banyak yang sama, tetapi penggunaanya tidak sama. Seperti kata penelitian, penyelidikan. Kata-kata tersrbut bersinonim (mempunyai arti yang sama), tetapi tidak bisa ditempatkan dalam kalimat yang sama. Contoh dalam kalimat; “Mahasiswa tingkat akhir harus mengadakan penelitian untuk membuat karya ilmiah sebagai tugas akhir dalam studinya”;”Penyelidikan kasus penggelapan uang negara sudah dimulai”; Berdasarkan pengamatan saya situasi belajar di kelas A cukup kondusif; Berdasarkan hasil penyidikan polisi, ditemukan fakta-fakta yang memperkuat dia menjadi tersangka. Keempat kata dalam kalimat-kalimat itu tidak bisa dtukar. Seandainya ditukar, tidak akan sesuai sehungga akan membingungkan pendengar atau pembaca. Dari segi kesopanan, kata mati, meninggal, gugur, mangkat, wafat, dan pulang ke rahmatullah,dipilih berdasarkan jenis mahluk, tingkat sosial, dan waktu. Contoh : Kucing saya mati setelah makan ikan busuk; Ayahnya meninggal tadi malam; Pahlawanku gugur di medan laga; Beliau wafat 1425H. Frase biasa dipakai dalam bewara kematian di surat kabar, seperti”…telah pulang ke rahmatullah kakek Jauhari….”. dari segi makna, kta islam dan muslim sering salah penggunaanya dalam kalimat. Kita pernah mendengar orang berkata, “Seelah menjadi Islam dia rajin bersedekah”. Seharusnya, “Setelah masuk Islam dia rajin bersedekah”. Kalau mau menggunakan kata menjadi maka selanjutnya harus menggunakan kata muslim. Contoh, “Setelah menjadi muslim dia rajin bersedekah”. Islam adalah nama agama yang berarti lembaga, sedangkan muslim adalah orang yang beragama Islam. Kata menjadi dapat dipasangkan dengan orangnya dan kata masuk tepat dipasangkan dengan lembaganya.

Referensi pembuatan blog : http://pbsindonesia.fkip-uninus.org/media.php?module=detailmateri&id=63

chat room blog


ShoutMix chat widget